Friday, 18 January 2013

ANAK SUKA BERKATA KOTOR


Rio (nama samaran) adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Sekarang dia berumur 8 tahun dan duduk di kelas 2 SD. Kakaknya berumur 14 tahun dan adiknya berumur 5 tahun. Tiga hari belakangan ini, Rio telah mengucapkan lebih dari 3 kali kata-kata kasar dan kotor di sekolah. Baik di dalam kelas pada waktu pelajaran ataupun di luar kelas saat bermain dengan teman-temannya. Setiap pulang sekolah ia tidak langsung pulang ke rumah tetapi bermain dan berkumpul dahulu dengan teman-teman sebayanya atau menonton televisi di rumah temannya.
Hubungan kedua orang tuanya kurang harmonis. Ayah dan ibunya sering bertengkar di rumah dan sering mengucapkan kata-kata kotor. Ibu dan ayahnya lebih sering bersama adiknya yang berusia 5 tahun. Ketika sampai di rumah Rio disuruh ayah dan ibunya untuk membantu pekerjaan mereka atau membantu menjaga adiknya.


A.                Jenis Masalah

Anak usia SD yaitu usia 7-12 tahun memiliki sifat pembosan, suka meniru, selalu ingin tahu, dan selalu ingin bergerak. Menurut Anna Surti Ariani, Psi, anak usia 6-10 tahun memiliki otak seperti spons yang menyerap apapun. Akibatnya, jika anak mendengar hal positif maupun negatif, dia akan mudah menirunya. Meski, sebagian dari kata-kata yang terlontar tersebut mungkin belum mereka pahami artinya. Mengucapkan kata-kata yang kotor merupakan sesuatu yang tidak baik dan sering menimbulkan sejumlah persoalan mengarah ke hal yang negatif. Ketika anak-anak sudah bermulut kotor, berkata-kata kasar, maka dikhawatirkan kelak akan tumbuh jadi masyarakat yang sangar lagi kasar serta bermulut jorok.
Anak suka berkata kotor termasuk ke dalam masalah moral, psikologis, dan sosial. Manakala kata-kata negatif itu ditujukan kepada diri sendiri, maka akan merusak moral dan psikologisnya. Ia dapat menjadi sosok yang tidak percaya diri, emosional, tidak bersemangat, tertutup, tidak punya keyakinan untuk melakukan sesuatu, dan pada akhirnya menyulitkannya untuk berkembang.
Selain itu anak juga mengalami masalah sosial. Biasanya mereka mengucapkan kata-kata ini ketika jauh dari pengawasan orangtua dan gurunya, sedang bergerombol bersama rekan sebaya, kemudian saling menyapa rekannya dengan bertukar kalimat kotor tersebut. Momen ini dapat diamati ketika jam-jam pulang sekolah.


B.                 Karakteristik atau Gejala Masalah

Gejala atau karakteristik dari anak yang suka berkata kotor antara lain:
1.        Suka mengucapkan kata-kata yang tidak baik, mengeluarkan kata-kata 'kasar' dan 'sumpah serapah' membawa-bawa nama hewan peliharaan, satwa kebun binatang, kotoran, bahkan hingga ke bagian-bagian sensitif dari aurat manusia, juga istilah hubungan badan dengan berbagai variasi kosa-kata dan bahasa;
2.        Suka bergerombol dengan teman sebaya yang dianggapnya menjadi penguat dan pendukung dirinya;
3.        Emosional dalam menanggapi perkataan atau perbuatan yang dilakukan oleh orang lain sehingga cenderung menjadi pribadi yang lebih tertutup;
4.        Tidak bersemangat dan tidak memiliki motivasi untuk belajar.


C.    Faktor-faktor Penyebab Anak Suka Berkata Kotor

Faktor-faktor penyebab anak suka berkata kotor yaitu:
1.        Faktor Internal
a.         Keinginan untuk Mendapat Perhatian
Ketika anak melontarkan kata kotor, anak segera mendapat perhatian dari orangtua maupun orang dewasa lainnya, sekalipun perhatian itu berbentuk teguran atau amarah.
b.         Perasaan Senang setelah Mengejutkan Orang Lain
Ada perasaan senang yang dialami anak saat berhasil mengejutkan orang lain. Ketika anak bisa membuat orang dewasa shock, seketika ia merasa bisa mengungguli orang dewasa tersebut.
c.         Keinginan Melepaskan Emosi Marah dan Kecewa
Anak mungkin menggunakan kata-kata kotor itu untuk mengekspresikan perasaan marah, kesal, atau kecewa pada orang lain.
d.        Keinginan Memberontak
Anak mempunyai suatu perasaan bermusuhan terhadap orang dewasa. Selama ini ia mungkin merasa terlalu ditekan, dibatasi, atau mungkin juga merasa diperlakukan dengan kasar, akibatnya ia jadi berkeinginan untuk memberontak dan agresif melawan orang dewasa.

2.        Faktor Eksternal
a.         Keluarga
Keluarga sebagai lingkungan terdekat mempunyai pengaruh paling besar dalam pembentukan perilaku. Terkadang secara tidak sadar, ada pengucapan kata-kata 'kotor' terlontar dari anggota keluarga lainnya yang terdengar oleh si kecil, dan ditiru olehnya. Kondisi keluarga yang kurang kondusif juga menekan anak untuk berkata kotor.
b.         Lingkungan
Menurut teori Erikson, anak-anak usia sekolah, tepatnya usia 6 sampai 12 tahun melihat apa yang dituntut oleh lingkungan, terutama dalam konteks sekolah dan sosial pertemanan. Mereka perlu mengatasi tuntutan tersebut dengan belajar lewat interaksi yang dialaminya di lingkungan, termasuk keluarga, sekolah, serta pertemanan.
Jika orang-orang sekitar yang ditemui anak sehari-hari adalah orang yang tak dapat mengendalikan diri saat marah sehingga suka memaki-maki dengan kata kotor, anak tidak belajar mengembangkan pengendalian diri yang baik, akhirnya anak pun menjadi pribadi yang sulit mengendalikan diri untuk tidak berkata kotor saat marah. Perilaku berkata kotor ini menjadi berkembang ketika lingkungan pergaulan memberikan dukungan, dan dengan melakukan perilaku berbicara 'kotor' tersebut mereka merasa berarti, mendapat pengakuan dari teman-temannya.

c.         Hiburan dan Tayangan Televisi
Salah satu hiburan yang sering diakses anak biasanya ialah tayangan televisi. Melalui kotak elektronik ini anak bisa mendapatkan dan meniru aneka kosakata serta tingkah laku, termasuk yang negatif. Maraknya tayangan yang menyampaikan kata-kata vulgar berbau umpatan tentu saja meresahkan orangtua yang memiliki anak. Sekarang ini, bahkan acara televisi yang dikhususkan untuk anak-anakpun, terkadang menyajikan tayangan yang didalamnya berisi kata-kata kurang pantas untuk telinga anak. Selain itu lagu yang memiliki lirik kurang pantas untuk dinyanyikan anak, aneka buku bacaan baik cerita ataupun komik, serta video game juga mempunyai potensi pembawa pengaruh buruk.

D.    Solusi Pemecahan Masalah

1.        Peka terhadap Kondisi Anak
Artinya, memahami apa yang menyebabkan anak mengucapkan kata-kata kasar, pada situasi seperti apa anak mengungkapkannya, apakah anak sedang merasa lelah/ marah/ kesal/ lainnya. Jika anak mengucapkan kata kotor ketika ia sedang marah/ kesal orangtua dapat mengajarkan cara yang lebih positif untuk mengungkapkan marahnya, misalnya dengan mengganti kata kasar tersebut dengan kata lain seperti “aku marah/ aku tidak suka/ aku kesal”. Jika anak mengungkapkan kata kasar ketika sedang lelah, tunjukkan empati dan alihkan anak untuk segera beristirahat. Mendiskusikan mengenai kata-kata kasar yang diucapkannya setelah anak berada dalam kondisi tenang.
2.        Mengembangkan Komunikasi yang Positif dalam Keseharian
Dengan mengucapkan kata-kata positif dalam komunikasi sehari-hari dan mengajarkan anak mengungkapkan isi pikiran maupun perasaannya dengan kata positif. Selain itu, Hindari mengucapkan kata kasar/mengumpat/mengejek di hadapan anak.
3.        Kegiatan bercerita (membaca buku cerita/mendongeng) yang sarat akan pesan moral juga dapat dijadikan salah satu cara untuk mengurangi tingkah laku berkata kasar. Pilih cerita yang relevan dengan tingkah laku anak, tanpa perlu mengaitkan cerita tersebut dengan anak misalnya dengan mengatakan “Ini kan sama seperti kamu, suka bicara kasar” Hal tersebut justru akan membuat anak tidak bersemangat untuk mendengarkannya. Serta mengawasi kegiatan menonton TV/ CD/ sejenis.

4.       Menjelaskan  Arti Katanya
Menanyakan pada anak apa maksudnya mengucapkan kata tersebut. Mungkin ia tak bisa menjelaskannya. Artinya ia memang tidak paham apa arti kata kasar dan jorok tersebut, dan belum sadar kalau kata-kata itu dapat menyakiti orang lain. Tugas guru dan orangtua adalah menggali pemahaman anak mengenai kata tersebut dan mencari tahu alasan ia melontarkannya, lalu meluruskan perilaku yang tak pantas tersebut. Jangan mudah menyerah jika anak sudah dinasihati, namun tetap mengulang kata-kata tak pantas itu. Tugas orangtua adalah membimbing dan mengarahkan buah hati secara terus menerus.
5.        Membuat Kesepakatan
Bila anak masih saja mengulangi kata kasar dan kotor, meski sudah dinasihati berulang kali, buatlah kesepakatan. Berikan hukuman yang disepakati bersama, namun jangan memberikan hukuman fisik. Jika anak sudah lama terbiasa berbicara kotor, sukar baginya untuk langsung berhenti total menggunakan kata-kata kotor tersebut. Dalam keadaan ini, lebih baik guru orangtua mengadakan perjanjian dengan anak, yaitu bahwa jika dalam waktu yang ditentukan anak tidak berbicara kotor, anak mendapat poin, poin yang terkumpul kemudian ditukar dengan hadiah bila jumlahnya mencapai target.
6.        Jeli Mencari Penyebabnya.
Guru dan orang tua harus jeli mencari penyebab anak makin senang menggunakan kata kasar dan jorok. Apakah tiap kali ia berucap kata kasar, lalu ditertawakan oleh orang lain di rumah? Kalau memang demikian, beri pengertian kepada seluruh anggota keluarga untuk tidak memberikan respons positif bila anak melontarkan kata-kata yang kurang pantas. Minta mereka untuk tidak menganggap lucu kata-kata itu. Tekankan, jika anak mulai berkata kasar, jangan pedulikan, pura-pura tidak tahu. Umumnya anak akan segera menghentikan kebiasaan buruknya karena ia tahu tidak sukses mendapat perhatian dari perilaku tersebut.
7.        Mengajarkan Ekspresi Emosi yang Lebih Tepat
Bila anak mengeluarkan kata-kata kotor tiap kali ia marah, ajarkan cara mengekspresikan emosi yang lebih baik, misalnya dengan berbicara asertif, yaitu menyampaikan kepada orang lain tentang ketidaksetujuan kita terhadap perilakunya yang membuat kita merasa tidak nyaman. Anak yang masih kecil biasanya kesulitan untuk merumuskan bagaimana perasaannya, padahal mengenali perasaan beserta penyebab timbulnya perasaan merupakan langkah untuk bisa mengelola emosi secara baik. Oleh karena itu, ketika melihat anak sedang diluapi perasaan marah atau frustrasi, orangtua bisa membantu membacakan perasaannya dan menjelaskan sebab timbulnya perasaan tersebut.

E.                 Pihak-pihak yang Terlibat dalam Pemecahan Masalah

Untuk menangani masalah tersebut, diperlukan kerjasama dari berbagai pihak yaitu:
1.        Guru kelas tempat anak belajar perlu menciptakan iklim belajar yang menyenangkan bagi semua murid sehingga tidak ada yang merasa tidak dihargai dan tidak diperhatikan dalam kelas.
2.        Teman-teman belajar harus mengingatkan apabila anak tersebut mengucapkan kata-kata kotor.
3.        Orang tua harus memperhatikan, mengarahkan dan menasehati tingkah laku anak di rumah berkaitan dengan tingkah lakunya di sekolah.
Kerjasama yang baik antara orang tua, guru, teman-teman, dan lingkungan sekitar tentu akan membawa hasil yang optimal terhadap perkembangan moral anak menjadi lebih baik lagi.


Update>>
 Terima kasih yang telah menggunakan artikel ini sebagai sumber,,,
http://repository.unib.ac.id/8785/2/I,II,III,II-14-ase.FK.pdf

8 comments:

  1. tks infonya mbak, sangat membantu :) anak sy usia 8 thn dan 2 thn. sepertinya butuh info lebih banyak ttg dunia parenting nich :) salam kenal...

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal bu rita,
      Alhamdulillah bila tulisan ini bermanfaat
      semoga kita bisa saling berbagi informasi ya... :)

      Delete
    2. Kembali salam kenal bolehkah kita kenalan dari saya yg jauh disana

      Delete
  2. bunda.. adakah parenting mengatasi anak yang suka memukul temannya? internal kami tidak ada yang mengajarkan anak-anak memukul tapi mengapa anak saya suka memukul ya? padahal tayangan tv juga kami selektif..

    ReplyDelete
    Replies
    1. belum ada bunda,, nanti saya pelajari dulu,,soalnya saya juga baru tahap belajar,,,, :)

      Delete
  3. bagus kak, tadi aku nominasiin di Liebster Award. Cek http://www.fikrimaulanaa.com/2015/01/gue-dan-liebster-award.html

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih :D terima kasih udah sering berkunjung jg,,kpn2 aq jawab liebster awardnya deh,,lg limit kuota,,,hehe

      Delete

Yuk, tinggalkan jejak dengan berkomentar...