Wednesday, 24 April 2013

Aisa


Letih telah menyelimuti raut Aisa. Muram tak berpudar.
“Ais?”
Ais tak mendengar. Gontai langkahnya menuju singgasana peraduan malam. Sentuhan lembut membelai rambut manis Ais. Rintik air mata pun kembali menetes. Dalam pelukan hangat semua tertumpahkan.
“Ibu, haruskah aku berhenti sampai di sini. Aku lelah, Ibu,”
“Tenanglah, Nak. Semua akan baik-baik saja,”
“Tapi aku sudah tak sanggup lagi. Ini sudah terlalu berat untukku. Ibu,”
Ibu memungut secarik kertas dari kolong tempat tidur Aisa. Ya, sebuah surat tagihan pembayaran dana sekolah.

 
“Tegakkan kepalamu, Nak. Insya Allah ada jalan,”
Aisa memeluk Ibunya dengan sepenuh hati. Hari demi hari berlalu.
“Ibu, kemanakah kalung pemberian Ayah?”
Ibu Aisa hanya terdiam.
“Ibu, apakah Ibu menjualnya untuk membayar sekolahku?”
“Tidak, Nak,”
Ibu Aisa lalu merogoh sesuatu dari bajunya.
“Kalung ini sekarang menjadi milikmu, Nak. Ingatlah, apapun yang terjadi, Ayah dan Ibu akan selalu bersamamu,”
Berkaca-kacalah mata Aisa.
“Ibu, terima kasih. Ais janji akan terus belajar. Tak kan berhenti apapun yang kan terjadi. Dan ini, uang sisa uang hadiah lomba menulis untuk Ibu. Sebagian sudah Ais bayarkan ke sekolah,”
Ibu Aisa tersenyum bahagia.
“Ibu, aku tak akan pernah berhenti melangkah, karena jalanku masih panjang. Doa Ibu dan Ayahlah yang selalu menguatkan aku”.

No comments:

Post a Comment

Yuk, tinggalkan jejak dengan berkomentar...