Monday, 27 February 2017

Wanita dan Memasak



Sebagian besar para ibu pasti selalu mendorong agar anak perempuannya bisa memasak. Terlebih kalau sudah menjadi anak gadis. Hal ini pun juga ku alami. Ibu selalu menasihatiku agar aku belajar memasak. Hmm... seperti sebagian anak lainnya jawabanku antara lain :

1. Masih malas
2. Enggan menginjakkan kaki ke dapur
3. Merasa repot dengan segala prosesnya
4. Belum tertarik
5. Berpola pikir tidak bisa masak tidak apa-apa toh nanti kalau sudah menikah bisa beli makanan atau punya asisten rumah tangga.
6. Enakan langsung makan daripada harus repot.
7. Sesekali tidak apa-apa ke dapur tapi hanya dalam situasi 'kepepet'. Sekedar merebus mie atau membuat telur dadar.
8. Masakan andalan : soto, ayam bawang, bakso, tetapi mie rebus semua..
9. Kalau sedang dalam perkemahan, lebih suka ikut permainan dan mencari jejak daripada harus jaga tenda ataupun memasak.
10. lan sakpanunggalanne.

Dan semuanya berubah ketika kuliah punya teman kost pintar masak. Dan sekarang sudah berkeluarga. Dari saat itu pemikiranku sedikit demi sedikit mulai berubah. Meskipun tidak seberapa. Dan segalanya semakin berubah saat diriku mulai merantau. Jauh dari orang tua. Harus kost dan bertanggungjawab pada asupan makanan sendiri. Dan lagi dan lagi.. aku bertemu dengan seorang sahabat sekaligus kakak yang sangat pandai memasak. Apapun bisa dimasaknya. Dari mulai soto, opor, nasi kuning, nasi gurih, dan kawan-kawan masakan lainnya. Dan kakakku yang cantik dan pintar memasak ini pun sudah menikah. Duh.. kok jadi baper ya..

Dari teman-temanku yang pandai memasak ini aku belajar banyak hal, diantaranya :
1. Sebagai seorang wanita itu harus bisa memasak, walaupun tidak setiap hari kita memasak.
2. Mereka berkata bahwa masakan terenak bagi suami mereka adalah masakan istrinya (tuh kan baper lagi)
3. Seorang wanita pasti ingin menjadi seorang ibu dimana seorang ibu juga bertanggung jawab atas asupan gizi anaknya.

Dari situ aku mulai berpikir bahwa:
1. Masakan kita adalah wujud rasa cinta. Bila memasak dengan penuh cinta akan menimbulkan kasih sayang bagi yang memakannya. Seperti diriku. Meskipun aku sedang merantau, aku selalu rindu pulang. Rindu dengan masakan ibu. Bahkan aku rindu dengan masakan teman-temanku yang pandai memasak itu. Makanya sering menginap. Tombo kangen yo mbak. Dan aku juga berpikir, jika seorang wanita bisa memasak pasti akan membawa orang-orang yang dicintainya kembali seperti seorang suami ke pada istrinya atau seorang ibu kepada ibunya. Seperti ASI yang memperkuat ikatan batin bagi ibu dan anak. ASI juga termasuk makanan bayi. Dengan makanan yang dimasak sendiri dengan penuh cinta akan menambah erat ikatan keluarga. 
2. Memasak mengajarkan kita untuk menghargai setiap proses. Dari yang paling sederhana hingga yang paling rumit sekalipun. 
3. Segala bahan makanan jika diberi bumbu dan dimasak pasti enak.
4. Jika tidak bisa memasak dengan resep-resep yang rumit kita bisa berkreasi sendiri. 
 

Ahh.. akupun juga rindu dimasakkin bapakku.. rindu ingin pulang.. terakhir kapan pulang ya ?

Kini baru aku sadari semua yang dikatakan ibuku sedari kecil itu benar. Namun, mungkin diriku butuh waktu untuk memahaminya sendiri. Ahh.. tapi ibuku jago masak, masak anaknya enggak. Maafkan ya bu.. belajar perlahan. Tapi tetep masih musuhan sama masak kalau disuruh masak ikan atau daging. wkwkwkwk..

4 comments:

  1. sampai anak-anakku dewasa, aku tetap gak bisa masak, untungnya suamiku bukan tipe org yang hrs dimasakin istrinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. sesekali berilah kejutan... walau hanya sebatas tahu atau tempe goreng ^ ^

      Delete
  2. klo wanita harus familiar dengan memasak dung... harus belajar sedini mungkin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hhe iya.. tdk ada kata terlambat untuk belajar... dan juga meskipun tdk bisa sejago para chef ^^

      Delete

Yuk, tinggalkan jejak dengan berkomentar...