Saturday, 5 January 2013

KLENENGAN SELASA LEGEN KARAWITAN PUTRI SANTI LARAS

Karawitan digunakan untuk menyebut musik yang dihasilkan dari alat gamelan Jawa. Karawitan merupakan sebuah musik yang mencakup instrumental dan vokal dengan menggunakan media gamelan Jawa. Sajian karawitan dapat dilakukan mandiri yaitu tidak terikat dengan kesenian lain misalnya kesenian tari, drama, atau wayang. Penyajian karawitan mandiri di Surakarta disebut klenengan sedangkan di Yogyakarta disebut uyon-uyon. Media pokok klenengan pada karawitan adalah suara manusia dan suara gamelan. Karawitan memiliki berbagai fungsi yaitu sebagai iringan tari, wayang orang, dan pertujukkan lainnya; sebagai pertunjukkan atau hiburan; sebagai media komunikasi; sebagai pencerminan ekspresi; sebagai alat sosial misalnya untuk menyukseskan suatu program dan mempererat persaudaraan; sebagai sarana upacara; dan lain-lain.



Setiap malam Selasa Legi ada pertunjukkan klenengan di  Balai Soedjatmoko Solo, jalan Slamet Riyadi 284 Surakarta. Setiap pertunjukkan di isi oleh kelompok karawitan yang berbeda-beda. Pada hari Senin Kliwon, malam Selasa Legi, tanggal 17 Desember 2012 kelompok karawitan putri Santi Laras tampil dalam pertunjukkan klenengan Selasa Legen tersebut untuk memperingati hari ibu. Kelompok karawitan putri Santi Laras merupakan kelompok karawitan putri yang anggotanya ibu-ibu dari daerah Joyosuran, Kecamatan Pasar Kliwon, Surakarta. Kelompok karawitan tersebut dilatih oleh Bapak Kadar. Usia ibu-ibu yang ikut dalam pertunjukkan tersebut rata-rata di atas 50 tahun. Ada seorang ibu yang berusia 80 tahun tetap semangat untuk menabuh gamelan. 
Acara tersebut dihadiri oleh bapak-bapak dan ibu-ibu, mahasiswa semester 5 PGSD FKIP UNS, dan beberapa turis. Berdasarkan hasil wawancara, pertunjukkan tersebut jarang dihadiri oleh remaja. Padahal klenengan dalam karawitan merupakan salah satu budaya Jawa yang seharusnya dilestarikan. 
Dengan berbalut busana seragam batik, ibu-ibu karawitan putri Santi Laras menabuh gamelan dan menyanyikan lagu-lagu Jawa dengan lembut. Pada pertunjukkan tersebut menggunakan karawitan campuran yaitu campuran antara instrumen dan gerongan atau vokal. Pada bentuk ini keduanya memiliki kedudukan yang sama. Artinya bahwa keras lirihnya permainan tabuhan instrumen dan sajian vokal berjalan sejajar atau seimbang. Perpaduan yang demikian itu menghasilkan suatu kesatuan musik yang sangat selaras, harmonis, dan enak didengar. Karawitan campuran ini terdapat pada bentuk lain misalnya irama dadi, ketawang, dan ladrang.
Dalam pertunjukkan klenengan tersebut menyajikan empat paket lagu, yaitu:
1.     Paket 1   :    Jamuran, Ladrang Ayun-ayun, Langgam Wuyung, Lir-Ilir, Wajibe dadi Murid
2.     Paket 2   :    Dolan Menyang Sala, Asmarandana (Ganda Arum), Puspanjala, Dayohe Teko
3.     Paket 3   :    Gugur Gunung, Sumyar, Kuwi Opo Kuwi
4.     Paket 4   :    Langgam Dadi Ati, Onde-onde
Instrumen gamelan yang ditabuh antara lain kendhang, gong, bonang barung, bonang penerus, kethuk, kempyang, kenong, saron barung, saron penerus, demung, gambang, dan lain-lain.
  Letak tabuh instrumen ketuk, kempyang, kempul, dan gong sebagai berikut:
1.     Tabuhan ketuk             :    pada setiap sabetan kedua setiap gatra balungan
2.     Tabuhan kempyang    :    pada setiap sabetan ganjil gatra balungan
3.     Tabuhan kempul          :    pada setiap gatra ganjil kecuali gatra 1
4.     Tabuhan kenong         :    pada setiap akhir gatra genap
5.     Tabuhan gong              :    pada setiap akhir setelah kenong keempat   
Pertunjukkan ini merupakan acara yang positif. Dengan melihat pertunjukkan ini dapat menambah kecintaan kepada kesenian karawitan, menambah pengetahuan, dan menggugah hati untuk dapat ikut membantu melestarikan kebudayaan Jawa khususnya kesenian karawitan. Pertunjukkan ini membuat kita semakin menyadari bahwa dengan karawitan dapat mempererat komunikasi dan persaudaraan antar penabuh gamelan maupun yang menyanyikan gendhing. Karawitan mengajarkan kepada kita untuk tetap berada dalam keseimbangan, tidak mudah terkalahkan oleh hawa nafsu, belajar untuk toleransi dan menghargai orang lain, dan sebagainya. Sebagai generasi muda seharusnya kita malu melihat ibu-ibu itu tetap semangat untuk melestarikan karawitan. Sebagai generasi muda yang memiliki tenaga lebih seharusnya lebih semangat lagi untuk melestarikan karawitan.
Acara tersebut berlangsung dengan lancar. Mahasiswa semester 5 PGSD FKIP UNS sangat antusias menikmati pertunjukkan tersebut. Banyak hal yang dapat dipelajari dari sebuah kesenian karawitan. Semoga kesenian karawitan tetap lestari hingga dapat diwariskan kepada generasi-generasi yang akan datang.

2 comments:

Yuk, tinggalkan jejak dengan berkomentar...